Sahabat GS Alkes, dalam masa pemulihan ada pasien yang sudah menunjukkan perkembangan cukup baik.
Pasien sudah mampu bangun dari posisi tidur, duduk di tepi bed, bahkan mungkin sudah mulai melakukan beberapa aktivitas sendiri.
Namun ketika ingin berdiri, muncul masalah baru.
Pasien harus berkali-kali mencoba, menarik tangan anggota keluarga, atau langsung mencari meja dan kursi untuk dijadikan pegangan.
Keluarga kemudian bertanya:
โKalau pasien sudah bisa duduk tetapi masih sulit berdiri, alat apa yang sebenarnya bisa membantu?โ
Jawabannya tidak selalu sama untuk setiap pasien.
Kesulitan berdiri dapat berkaitan dengan kekuatan otot, keseimbangan, kondisi sendi, tinggi tempat tidur, kondisi setelah sakit atau operasi, maupun faktor kesehatan lainnya. Karena itu, terutama jika keluhan baru muncul atau semakin berat, penyebabnya perlu dievaluasi oleh tenaga kesehatan.
Bisa Duduk Belum Tentu Sudah Siap Berdiri Sendiri
Duduk dan berdiri membutuhkan kemampuan tubuh yang berbeda.
Ketika berdiri dari bed, pasien perlu memindahkan berat tubuh ke depan, menggunakan kekuatan kaki, menjaga keseimbangan, kemudian mempertahankan posisi setelah tubuh tegak.
Itulah sebabnya pasien mungkin mampu duduk cukup lama tetapi masih membutuhkan bantuan ketika berdiri.
Jangan hanya menilai:
โSudah bisa duduk berarti sebentar lagi pasti bisa berdiri sendiri.โ
Yang lebih penting adalah melihat bagaimana pasien melakukan proses tersebut.
Perhatikan Apa yang Terjadi Ketika Pasien Mencoba Berdiri
Beberapa hal berikut dapat diperhatikan keluarga:
- Pasien membutuhkan beberapa kali percobaan untuk berdiri.
- Harus menarik tangan caregiver dengan kuat.
- Tubuh terlihat goyah setelah berdiri.
- Kaki tampak kesulitan menopang tubuh.
- Pasien langsung mencari benda untuk berpegangan.
- Mengeluh pusing ketika baru berdiri.
- Takut mencoba berdiri sendiri.
- Pernah hampir jatuh.
- Mengeluh nyeri ketika mencoba berdiri.
Informasi seperti ini dapat membantu ketika keluarga berkonsultasi dengan dokter atau fisioterapis.
1. Cek Dulu Tinggi Tempat Tidurnya
๐๏ธ Salah satu hal sederhana yang sering terlupakan adalah ketinggian tempat tidur.
Tempat tidur yang terlalu rendah dapat membuat sebagian pasien membutuhkan usaha lebih besar ketika hendak berdiri.
Sebaliknya, bed yang terlalu tinggi juga dapat menyulitkan karena kaki pasien mungkin tidak dapat menapak lantai dengan baik ketika duduk di tepi bed.
Saat pasien duduk sebelum berdiri, posisi harus memungkinkan pasien menempatkan kaki secara stabil sesuai kemampuan dan instruksi tenaga kesehatan.
Karena itu, sebelum langsung membeli alat bantu lain, perhatikan apakah tinggi tempat tidur yang digunakan sudah sesuai.
Bed Pasien dengan Pengaturan Tinggi Bisa Membantu pada Kondisi Tertentu
Beberapa jenis bed pasien elektrik atau multifungsi memiliki fitur untuk mengatur ketinggian bed.
Fitur ini dapat membantu caregiver menyesuaikan posisi bed untuk aktivitas tertentu.
Misalnya, ketinggian dapat disesuaikan ketika caregiver melakukan perawatan dan kemudian diatur kembali sesuai kebutuhan pasien.
Namun tidak semua bed pasien memiliki fitur pengaturan tinggi.
Jika fungsi tersebut memang dibutuhkan, tanyakan terlebih dahulu sebelum menyewa.
2. Apakah Walker Bisa Membantu Pasien Berdiri?
๐ถ Walker sering digunakan sebagai alat bantu mobilitas pada pasien yang membutuhkan tambahan stabilitas ketika berjalan.
Namun walker bukan otomatis alat untuk menarik tubuh pasien dari posisi duduk menjadi berdiri.
Pasien tidak sebaiknya menarik walker dengan kuat untuk mengangkat tubuhnya karena walker dapat bergeser atau menjadi tidak stabil, tergantung jenis dan situasinya.
Setelah pasien mampu berdiri dengan teknik yang aman, walker dapat digunakan pada kondisi tertentu untuk memberikan dukungan ketika mulai berjalan.
Apakah walker sesuai atau tidak sebaiknya ditentukan berdasarkan kemampuan pasien dan, bila diperlukan, evaluasi fisioterapis.
Jangan Menggunakan Walker seperti โPegangan untuk Menarik Badanโ
Ini penting.
Ketika hendak berdiri, pasien mungkin refleks memegang walker kemudian menariknya ke arah tubuh.
Cara tersebut dapat meningkatkan risiko alat bergerak.
Karena itu, keluarga sebaiknya mendapatkan arahan mengenai teknik sit-to-stand yang sesuai dengan kondisi pasien.
Terutama pada pasien setelah stroke, operasi, cedera, atau yang memiliki gangguan keseimbangan, teknik transfer sebaiknya diajarkan oleh tenaga kesehatan.
3. Kursi Roda Bisa Membantu Mobilitas Setelah Pasien Berdiri
โฟ Bagaimana jika pasien mampu berdiri dengan bantuan tetapi belum kuat berjalan jauh?
Dalam kondisi tertentu, kursi roda dapat membantu mobilitas pasien.
Misalnya pasien perlu berpindah dari kamar menuju ruang lain, pergi kontrol ke rumah sakit, atau mudah lelah ketika berjalan.
Kursi roda tidak menyelesaikan penyebab pasien sulit berdiri, tetapi dapat membantu mengurangi kebutuhan berjalan jauh ketika kemampuan mobilitas masih terbatas.
Untuk pasien yang masih menjalani latihan berjalan, penggunaan kursi roda sebaiknya disesuaikan dengan program pemulihan dari tenaga kesehatan.
4. Jangan Jadikan Meja dan Kursi sebagai Pegangan
Ketika tidak memiliki alat bantu, pasien sering menggunakan benda di sekitar rumah:
Bed โ meja โ kursi โ lemari โ tembok.
Sekilas terlihat membantu.
Namun meja atau kursi rumah belum tentu dirancang untuk menopang berat tubuh.
Kursi dapat bergeser.
Meja kecil dapat berpindah.
Benda yang terlihat kokoh pun belum tentu aman digunakan sebagai pegangan ketika pasien kehilangan keseimbangan.
Karena itu, jangan membiasakan pasien berpindah dengan mengandalkan furnitur yang tidak stabil.
5. Jangan Menarik Tangan Pasien Secara Paksa
Ketika pasien sulit berdiri, keluarga sering spontan mengatakan:
โPegang tangan saya, nanti saya tarik.โ
Cara seperti ini belum tentu aman.
Menarik lengan pasien secara kuat dapat membuat posisi tubuh tidak stabil dan berpotensi menimbulkan cedera pada pasien maupun caregiver.
Begitu pula caregiver sebaiknya tidak memaksakan mengangkat pasien seorang diri jika pasien terlalu berat atau membutuhkan bantuan lebih dari satu orang.
Jika pasien memang membutuhkan bantuan transfer, mintalah dokter, perawat, atau fisioterapis mengajarkan teknik yang sesuai.
6. Bagaimana Jika Pasien Pusing Setelah Berdiri?
Ini perlu diperhatikan.
Ada pasien yang sebenarnya memiliki kekuatan kaki cukup baik, tetapi setelah berubah dari posisi berbaring atau duduk menjadi berdiri tiba-tiba merasa:
- Pusing.
- Berkunang-kunang.
- Lemah.
- Seperti akan jatuh.
- Tidak stabil.
Jika hal ini terjadi, jangan memaksakan pasien langsung berjalan.
Bantu pasien kembali ke posisi aman dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan, terutama jika keluhan sering terjadi, baru muncul, atau disertai gejala lain.
Kesulitan berdiri tidak selalu berarti pasien hanya membutuhkan walker.
Kadang penyebabnya perlu diperiksa terlebih dahulu.
7. Perhatikan Alas Kaki dan Kondisi Lantai
Hal sederhana lainnya adalah kondisi lantai.
Ketika pasien mencoba berdiri, pastikan area sekitar tidak licin.
Hindari:
- Karpet yang mudah bergeser.
- Kabel di sekitar bed.
- Barang kecil di lantai.
- Sandal yang terlalu longgar.
- Permukaan basah atau licin.
Pasien yang kemampuan berdirinya belum stabil membutuhkan lingkungan yang lebih aman.
Jangan Lupa Rem Bed dan Kursi Roda
Jika pasien berpindah antara bed dan kursi roda, pastikan alat berada dalam kondisi stabil.
Pada kursi roda, kunci rem sebelum pasien melakukan transfer.
Perhatikan pula posisi footrest agar tidak menghalangi kaki pasien.
Untuk bed yang memiliki roda, pastikan sistem penguncian digunakan sesuai petunjuk alat.
Bed Pasien, Walker, atau Kursi Roda: Mana yang Dibutuhkan?
Tidak selalu harus memilih salah satu.
Ketiga alat tersebut memiliki fungsi berbeda.
๐๏ธ Bed Pasien
Dapat membantu pengaturan posisi dan, pada tipe tertentu, ketinggian bed.
๐ถ Walker
Dapat memberikan dukungan tambahan saat berdiri/berjalan pada pasien yang memang dinilai sesuai untuk menggunakannya, tetapi bukan alat untuk ditarik ketika mengangkat tubuh dari bed.
โฟ Kursi Roda
Membantu mobilitas ketika pasien belum mampu atau belum aman berjalan jauh.
Kebutuhan dapat berubah seiring perkembangan pasien.
Hari ini pasien mungkin membutuhkan kursi roda.
Beberapa minggu kemudian pasien mulai menggunakan walker.
Setelah kemampuan membaik, alat bantu mungkin dapat dikurangi berdasarkan evaluasi tenaga kesehatan.
Apakah Perlu Menyewa Semua Alat Sekaligus?
Tidak.
Jangan menyewa bed pasien, walker, dan kursi roda hanya karena pasien kesulitan berdiri.
Cari tahu dulu masalah utama yang dialami pasien.
Jika tempat tidur terlalu rendah dan pasien banyak menjalani perawatan di bed, jenis bed tertentu mungkin membantu.
Jika pasien sudah mampu berdiri tetapi membutuhkan stabilitas tambahan ketika berjalan, walker mungkin dipertimbangkan setelah evaluasi.
Jika pasien belum kuat berjalan jauh, kursi roda dapat membantu mobilitas.
Prinsipnya:
Pilih alat berdasarkan kebutuhan, bukan berdasarkan jumlah alat yang tersedia.
Kalau Hanya Dibutuhkan Selama Masa Pemulihan, Sewa atau Beli?
Kemampuan pasien dapat berubah cukup cepat selama masa pemulihan.
Misalnya pada awalnya pasien membutuhkan kursi roda.
Setelah beberapa minggu, pasien mulai mampu berjalan menggunakan walker.
Kemudian kebutuhan alat berkurang.
Dalam kondisi seperti ini, sewa alat kesehatan dapat menjadi pilihan yang praktis karena keluarga dapat menyesuaikan alat dengan kebutuhan sementara.
Namun jika alat diperkirakan digunakan dalam jangka panjang, bandingkan biaya sewa dengan membeli.
Kapan Harus Berkonsultasi dengan Tenaga Kesehatan?
Kesulitan berdiri perlu mendapatkan perhatian terutama jika:
- Muncul secara tiba-tiba.
- Semakin berat.
- Pasien mengalami kelemahan baru.
- Salah satu sisi tubuh terasa lebih lemah.
- Disertai pusing berat atau hampir pingsan.
- Disertai nyeri hebat.
- Pasien beberapa kali hampir jatuh.
- Kemampuan berjalan menurun dibanding sebelumnya.
Untuk perubahan yang tiba-tiba atau gejala neurologis seperti kelemahan satu sisi, gangguan bicara, atau perubahan kesadaran, cari pertolongan medis segera.
Jangan hanya mencari alat bantu tanpa mengetahui penyebab perubahan kondisi pasien.
Jadi, Alat Apa yang Bisa Membantu?
Jika pasien sudah bisa duduk tetapi sulit berdiri dari bed, jangan langsung menyimpulkan bahwa pasien pasti membutuhkan walker atau kursi roda.
Perhatikan terlebih dahulu:
Tinggi bed โ kekuatan pasien โ keseimbangan โ keluhan saat berdiri โ kemampuan berjalan โ kebutuhan mobilitas.
Dari situ, keluarga bersama tenaga kesehatan dapat menentukan apakah pasien lebih terbantu dengan:
๐๏ธ bed pasien dengan fungsi tertentu,
๐ถ walker,
โฟ kursi roda,
atau justru membutuhkan latihan dan teknik transfer yang tepat.
Alat yang tepat bukan yang paling mahal atau paling banyak fiturnya, tetapi yang sesuai dengan kemampuan pasien saat ini.
Butuh Sewa Alat Kesehatan di Semarang?
Sahabat GS Alkes yang sedang mendampingi anggota keluarga dalam masa pemulihan dapat mempertimbangkan sewa alat kesehatan di Semarang jika kebutuhan alat hanya bersifat sementara.
GS Alkes menyediakan berbagai kebutuhan sesuai ketersediaan:
๐๏ธ Bed pasien manual & elektrik
โฟ Kursi roda standard, traveling & multifungsi
๐ถ Walker
๐ฉผ Kruk
๐ซ Tabung oksigen
๐จ Suction pump
๐ซ๏ธ Nebulizer
๐ Melayani Semarang & sekitarnya sesuai jangkauan pengantaran.
Jika belum yakin alat apa yang dibutuhkan, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu kondisi pasien kepada dokter atau fisioterapis sebelum menentukan alat bantu.
๐๐ GS Alkes โ Sahabat Perawatan di Rumah.
Artikel ini merupakan informasi edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, latihan transfer, maupun rekomendasi dokter, fisioterapis, atau tenaga kesehatan.
Post a Comment