Sahabat GS Alkes, setelah beberapa hari atau minggu menjalani masa pemulihan, ada perkembangan yang membuat keluarga lega:
Pasien akhirnya sudah bisa duduk sendiri dan mulai berdiri dari bed.
Namun ketika mencoba berjalan menuju toilet, ternyata kondisinya belum sekuat yang dibayangkan.
Baru beberapa langkah, pasien mulai:
๐ฆต Merasa kaki lemas.
๐ฎโ๐จ Cepat lelah.
โ๏ธ Terlihat kurang stabil.
๐ค Mencari dinding atau furnitur untuk berpegangan.
๐ช Ingin segera duduk kembali.
Keluarga kemudian bingung:
โKalau sudah bisa berdiri tetapi belum kuat jalan ke toilet, lebih baik pakai walker atau kursi roda?โ
Jawabannya tidak sama untuk setiap pasien.
Walker dan kursi roda mempunyai fungsi berbeda. Pilihannya perlu disesuaikan dengan kemampuan berdiri, keseimbangan, kekuatan kaki, daya tahan, jarak menuju toilet, kondisi rumah, dan rekomendasi tenaga kesehatan.
Yang penting, jangan menggunakan prinsip:
โSudah bisa berdiri berarti harus mulai jalan sendiri.โ
Bisa Berdiri Belum Tentu Sudah Kuat Berjalan
Ini hal pertama yang perlu dipahami.
Untuk berdiri dari bed, pasien mungkin hanya perlu mempertahankan posisi selama beberapa detik.
Sedangkan pergi ke toilet membutuhkan rangkaian aktivitas:
duduk โ berdiri โ menjaga keseimbangan โ melangkah โ berbelok โ masuk toilet โ duduk โ berdiri kembali โ berjalan pulang.
Tenaga yang dibutuhkan tentu lebih besar.
Karena itu, pasien yang sudah bisa berdiri belum tentu siap berjalan dari kamar menuju toilet tanpa bantuan.
Kapan Walker Bisa Dipertimbangkan?
๐ถ Walker memberikan area dukungan yang lebih luas dibanding berjalan tanpa alat.
Walker dapat dipertimbangkan jika pasien memang sudah diperbolehkan berjalan dan mempunyai kemampuan yang cukup untuk menggunakannya.
Misalnya pasien:
- Mampu berdiri relatif stabil.
- Mampu melangkah.
- Masih membutuhkan pegangan.
- Memiliki kekuatan tangan yang cukup.
- Mampu mengontrol walker.
- Tidak terlalu cepat kehilangan keseimbangan.
Namun jangan menentukan hanya berdasarkan pengamatan keluarga.
Jika pasien baru mengalami penurunan kemampuan berjalan setelah sakit, operasi, atau bed rest, fisioterapis dapat membantu menentukan alat yang sesuai.
Walker Bukan Alat untuk Menarik Tubuh dari Bed
Kesalahan yang cukup mudah terjadi adalah pasien duduk di tepi bed lalu langsung menarik walker untuk berdiri.
Walker dapat bergeser.
Teknik berpindah dari duduk ke berdiri perlu disesuaikan dengan kemampuan pasien dan jenis alat yang digunakan.
Jika pasien membutuhkan banyak bantuan saat berdiri, mintalah tenaga kesehatan atau fisioterapis mengajarkan teknik transfer yang sesuai.
Bagaimana Kalau Pasien Bisa Pakai Walker, Tetapi Hanya Beberapa Meter?
Ini situasi yang sangat mungkin terjadi.
Misalnya pasien mampu berjalan:
2 meter โ 3 meter โ kemudian mulai lelah.
Sedangkan toilet berada 8โ10 meter dari bed.
Jangan memaksakan:
โSedikit lagi sampai toilet.โ
Jika jarak melebihi kemampuan pasien saat ini, keluarga perlu mempertimbangkan alternatif mobilitas yang lebih aman.
Salah satunya bisa berupa kursi roda.
Kapan Kursi Roda Bisa Dipertimbangkan?
โฟ Kursi roda dapat membantu ketika pasien mampu berdiri atau berjalan pendek, tetapi belum memiliki stamina atau kestabilan untuk menempuh seluruh jarak menuju toilet.
Contohnya:
๐๏ธ Pasien berdiri dari bed dengan bantuan yang sesuai.
โ
โฟ Berpindah ke kursi roda.
โ
๐ป Kursi roda digunakan menuju area toilet yang dapat diakses.
โ
๐ค Pasien melakukan transfer sesuai kemampuan dan bantuan yang diperlukan.
Namun penggunaan kursi roda juga membutuhkan perencanaan.
Tidak semua kamar mandi atau toilet dapat dimasuki kursi roda.
Ukur Lebar Pintu Toilet
Sebelum memutuskan menggunakan kursi roda, periksa kondisi rumah.
๐ Apakah pintu cukup lebar?
๐ Apakah kursi bisa berbelok?
๐ช Apakah arah bukaan pintu menghalangi?
๐งฑ Apakah ada ambang pintu?
๐ฝ Apakah tersedia ruang untuk transfer?
Jangan sampai keluarga menyewa kursi roda kemudian baru menyadari:
โTernyata kursinya tidak bisa masuk pintu toilet.โ
Ukur akses terlebih dahulu dan bandingkan dengan dimensi kursi yang tersedia.
Bagaimana Kalau Kursi Roda Tidak Bisa Masuk Toilet?
Kursi roda tetap mungkin berguna untuk mendekatkan pasien ke area toilet, tetapi proses selanjutnya perlu disesuaikan dengan kemampuan pasien dan kondisi ruangan.
Jangan melakukan transfer berisiko hanya karena ruang sempit.
Untuk pasien dengan mobilitas sangat terbatas, tenaga kesehatan dapat membantu mengevaluasi kebutuhan alat atau strategi toileting yang lebih sesuai.
Walker atau Kursi Roda Bukan Pilihan โSalah Satu Selamanyaโ
Ini penting.
Keluarga sering bertanya:
โJadi harus pilih walker ATAU kursi roda?โ
Padahal pada masa pemulihan, keduanya bisa memiliki fungsi berbeda.
Contohnya:
๐ถ Walker โ latihan berjalan jarak pendek sesuai kemampuan.
โฟ Kursi roda โ mobilitas ketika jarak melebihi kemampuan pasien.
Pasien tidak harus berhenti menggunakan walker hanya karena tersedia kursi roda.
Sebaliknya, jangan memaksa pasien menggunakan walker untuk semua aktivitas hanya karena ia sudah mulai bisa berjalan.
Menggunakan Kursi Roda Tidak Berarti Pasien Mundur
Ada keluarga yang khawatir:
โKalau sekarang dikasih kursi roda, nanti malah malas jalan.โ
Belum tentu.
Jika pasien memiliki program latihan berjalan, latihan tersebut tetap dapat dilakukan sesuai arahan fisioterapis.
Kursi roda digunakan untuk fungsi yang berbeda: membantu mobilitas ketika aktivitas terlalu jauh atau melelahkan.
Misalnya:
๐ถ Pagi hari latihan berjalan dengan walker.
โฟ Ketika perlu ke area yang lebih jauh, menggunakan kursi roda.
Keduanya dapat saling melengkapi.
Jangan Jadikan Perjalanan ke Toilet Sebagai Tes Ketahanan
Pasien mengatakan:
โSaya mau coba jalan sendiri.โ
Keinginan tersebut tentu positif.
Tetapi perjalanan ke toilet bukan tempat ideal untuk menguji batas maksimal kemampuan pasien.
Pasien mungkin mampu sampai ke toilet tetapi kemudian terlalu lelah untuk kembali ke bed.
Pertimbangkan perjalanan pergi dan pulang, bukan hanya satu arah.
Perhatikan Kondisi Lantai
๐ป Area menuju toilet sering memiliki risiko tambahan:
๐ฆ Lantai basah.
๐ช Ambang pintu.
๐งด Barang di lantai.
๐ฅฟ Alas kaki licin.
๐งผ Permukaan kamar mandi yang berbeda.
Walker atau kursi roda tidak menghilangkan seluruh risiko tersebut.
Pastikan jalur dari bed menuju toilet bersih dan cukup terang.
Jangan Menggunakan Furnitur Sebagai โWalkerโ
Jika pasien berjalan dengan pola:
bed โ pegang meja โ pegang kursi โ pegang dinding โ pegang pintu,
ini perlu diperhatikan.
Furnitur rumah tidak dirancang sebagai alat bantu berjalan.
Kursi dapat bergeser.
Meja kecil dapat berpindah.
Jika pasien membutuhkan pegangan terus-menerus, evaluasi apakah alat bantu yang sesuai diperlukan.
Bagaimana dengan Perjalanan ke Toilet Malam Hari?
๐ Malam hari mempunyai tantangan tambahan.
Pasien mungkin:
- Baru bangun tidur.
- Masih mengantuk.
- Kamar gelap.
- Lebih lemah dibanding siang.
- Terburu-buru ingin ke toilet.
Sediakan pencahayaan yang cukup.
Pastikan jalur bebas kabel, karpet yang mudah bergeser, dan barang-barang kecil.
Jika pasien belum aman berjalan sendiri, jangan membiarkannya mencoba hanya karena jaraknya terasa dekat.
Rem Kursi Roda Harus Digunakan Saat Transfer
Jika pasien menggunakan kursi roda, sebelum berpindah:
๐ Pastikan rem digunakan sesuai mekanisme unit.
๐ฆถ Atur footrest agar tidak menghalangi.
โฟ Pastikan kursi berada pada posisi stabil.
Jangan meminta pasien berdiri dengan menginjak footrest.
Jika transfer membutuhkan bantuan besar, caregiver sebaiknya mendapat instruksi teknik yang tepat.
Jangan Menarik Pasien dari Kedua Lengannya
Ketika pasien mulai kehilangan keseimbangan, refleks keluarga mungkin langsung menarik kedua tangan pasien.
Cara membantu transfer dan berjalan perlu disesuaikan dengan kondisi pasien.
Menarik lengan secara sembarangan dapat menyebabkan cedera pada pasien maupun caregiver.
Jika pasien membutuhkan bantuan fisik yang cukup besar, mintalah fisioterapis mengajarkan teknik yang aman.
Bagaimana Mengetahui Pasien Terlalu Lelah?
Perhatikan bukan hanya ucapan pasien.
Hentikan aktivitas jika pasien mulai:
- Langkahnya semakin tidak stabil.
- Lutut tampak sulit menopang.
- Terus mencari tempat duduk.
- Mengeluh pusing.
- Sangat kelelahan.
- Mengalami nyeri yang meningkat.
- Tampak jauh lebih sesak dibanding biasanya.
Bantu pasien kembali ke posisi aman.
Jika kondisi memburuk atau muncul gejala berat, cari pertolongan medis.
Apakah Jarak Toilet Menentukan Pilihan?
Jarak merupakan salah satu pertimbangan, tetapi bukan satu-satunya.
Dua pasien dengan toilet berjarak lima meter dapat mempunyai kebutuhan berbeda.
Pasien A mungkin mampu berjalan menggunakan walker dengan aman.
Pasien B mungkin sudah sangat kelelahan setelah dua meter.
Karena itu, jangan menggunakan aturan:
โKalau toiletnya kurang dari 10 meter pasti cukup walker.โ
Kemampuan pasien jauh lebih penting daripada angka jaraknya.
Bagaimana Jika Kondisi Pasien Berubah Sepanjang Hari?
Ini juga sering terjadi.
Pagi hari pasien terasa kuat.
Sore hari mulai lelah.
Malam hari kemampuan berjalan berkurang.
Dalam situasi seperti ini, kebutuhan alat bisa berubah sesuai aktivitas dan kondisi pasien.
Misalnya walker digunakan ketika pasien cukup kuat, sementara kursi roda tersedia untuk kondisi ketika jarak atau kelelahan sudah menjadi masalah.
Kapan Harus Mengevaluasi Ulang Kemampuan Berjalan?
Jika pasien semakin sering membutuhkan bantuan atau kemampuan berjalan justru menurun, jangan hanya mengganti alat.
Cari tahu penyebabnya.
Terutama jika muncul:
๐จ Kelemahan mendadak.
๐จ Kelemahan satu sisi tubuh.
๐จ Gangguan bicara.
๐จ Kebingungan baru.
๐จ Pusing berat.
๐จ Nyeri dada atau sesak berat.
Kondisi seperti ini membutuhkan evaluasi medis segera sesuai gejalanya.
Jadi, Kursi Roda atau Walker?
Secara sederhana:
๐ถ Walker dapat dipertimbangkan jika:
Pasien sudah mampu berdiri dan berjalan, tetapi membutuhkan tambahan dukungan serta dinilai sesuai menggunakan walker.
โฟ Kursi roda dapat dipertimbangkan jika:
Pasien belum aman atau belum kuat berjalan sepanjang jarak yang diperlukan.
๐ถ + โฟ Keduanya?
Bisa saja.
Pada fase pemulihan tertentu:
Walker membantu pasien berjalan sesuai kemampuan, sedangkan kursi roda membantu ketika jarak sudah melebihi kemampuan pasien.
Tidak perlu memaksakan satu alat untuk semua aktivitas.
Butuh Walker atau Kursi Roda untuk Perawatan di Rumah di Semarang?
Sahabat GS Alkes yang sedang mendampingi pasien dalam masa pemulihan dapat menyesuaikan alat bantu dengan kemampuan pasien dan kondisi rumah.
GS Alkes menyediakan sesuai ketersediaan:
๐ถ Walker
โฟ Kursi roda standard
๐งณ Kursi roda traveling
โฟ Kursi roda multifungsi
๐ฉผ Tongkat kruk
๐๏ธ Bed pasien
Sebelum memesan, informasikan kebutuhan penggunaannya dan perhatikan lebar pintu, jarak bed ke toilet, kondisi lantai, serta kemampuan pasien saat ini.
Untuk pasien yang baru mengalami perubahan kemampuan berjalan, pemilihan alat bantu sebaiknya mengikuti evaluasi dokter atau fisioterapis.
๐ Pengantaran sesuai jangkauan layanan.
๐ Melayani Semarang & sekitarnya.
๐๐ GS Alkes โ Sahabat Perawatan di Rumah.
Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan atau rekomendasi dokter/fisioterapis. Jika kemampuan berjalan menurun mendadak atau disertai gejala seperti kelemahan satu sisi, gangguan bicara, sesak berat, nyeri dada, atau penurunan kesadaran, segera cari pertolongan medis.
Post a Comment