Sahabat GS Alkes, setelah beberapa hari atau minggu lebih banyak berbaring, ada momen yang sangat ditunggu keluarga:
Pasien akhirnya mulai mencoba berdiri dan berjalan kembali.
Awalnya mungkin hanya duduk di tepi bed. Kemudian berdiri dengan bantuan. Setelah itu mulai mencoba satu atau dua langkah.
Keluarga tentu senang melihat perkembangan tersebut.
Namun kemudian muncul pertanyaan baru:
“Kalau sudah mulai belajar jalan, alat bantu apa yang sebaiknya digunakan?”
Apakah menggunakan walker?
Apakah lebih cocok menggunakan tongkat kruk?
Atau meskipun sudah mulai berjalan, kursi roda masih perlu disiapkan?
Jawabannya tidak sama untuk setiap pasien.
Setelah lama bed rest, kemampuan berjalan dapat dipengaruhi oleh kekuatan otot, keseimbangan, daya tahan, penyebab pasien harus bed rest, cedera atau operasi yang pernah dijalani, serta kondisi kesehatan secara keseluruhan.
Karena itu, jangan memilih alat hanya berdasarkan:
“Yang penting pasien sudah bisa berdiri.”
Yang lebih penting adalah mengetahui seberapa aman pasien berdiri dan berjalan saat ini.
Setelah Lama Bed Rest, Kenapa Berjalan Bisa Terasa Berat?
Ketika seseorang lama tidak banyak bergerak, kemampuan fisiknya dapat menurun.
Pasien mungkin merasa:
- Kaki lebih lemah.
- Cepat lelah.
- Tubuh belum stabil.
- Takut jatuh.
- Sulit mempertahankan keseimbangan.
- Baru berjalan beberapa meter sudah ingin duduk.
- Membutuhkan pegangan ketika berdiri.
Hal tersebut tidak berarti semua pasien pasti mengalami kondisi yang sama.
Namun jangan heran jika pasien yang sebelumnya mampu berjalan normal ternyata membutuhkan bantuan setelah menjalani periode bed rest.
Terutama jika pasien baru pulih dari sakit berat, operasi, cedera, atau rawat inap cukup lama, proses kembali berjalan sebaiknya dilakukan secara bertahap sesuai kondisi dan arahan tenaga kesehatan.
Jangan Langsung Meminta Pasien Berjalan Sendiri
Ketika pasien pertama kali berhasil berdiri, keluarga mungkin sangat antusias.
“Sudah bisa berdiri, coba jalan ke pintu.”
Kemudian:
“Coba tanpa pegangan.”
Sebaiknya jangan terburu-buru.
Bisa berdiri beberapa detik belum tentu berarti pasien sudah memiliki keseimbangan dan stamina untuk berjalan sendiri.
Perhatikan dahulu:
- Apakah tubuh pasien goyah?
- Apakah lutut terlihat sulit menopang?
- Apakah pasien mencari benda untuk berpegangan?
- Apakah setelah berdiri pasien merasa pusing?
- Apakah satu sisi tubuh terlihat lebih lemah?
- Apakah pasien mampu mengangkat dan memindahkan kaki dengan baik?
- Apakah pasien cepat kelelahan?
Jika kemampuan berjalan baru berubah setelah sakit atau bed rest, dokter atau fisioterapis dapat membantu menentukan tahapan mobilitas yang sesuai.
Walker, Kruk, dan Kursi Roda Memiliki Fungsi Berbeda
Kesalahan yang cukup umum adalah menganggap ketiga alat tersebut hanya berbeda bentuk.
Padahal fungsi dan cara penggunaannya berbeda.
Secara sederhana:
🚶 Walker → memberikan area dukungan yang lebih luas ketika berjalan pada pasien yang sesuai menggunakannya.
🩼 Kruk → dapat membantu mobilitas dan pengaturan pembebanan pada kaki untuk kondisi tertentu.
♿ Kursi roda → membantu mobilitas ketika pasien belum aman atau belum kuat berjalan pada jarak tertentu.
Jadi pertanyaannya bukan:
“Mana alat yang paling bagus?”
Tetapi:
“Alat mana yang sesuai dengan kemampuan pasien saat ini?”
Kapan Walker Bisa Dipertimbangkan?
🚶 Walker dapat dipertimbangkan pada pasien yang sudah diperbolehkan berdiri dan berjalan tetapi membutuhkan tambahan dukungan dan stabilitas.
Misalnya pasien:
- Sudah mampu berdiri.
- Masih merasa kurang stabil.
- Membutuhkan pegangan saat berjalan.
- Belum percaya diri berjalan tanpa bantuan.
- Memiliki kekuatan yang cukup untuk menggunakan walker.
- Dinilai sesuai menggunakan walker oleh tenaga kesehatan.
Walker memiliki area penopang yang relatif luas sehingga dapat membantu pada kondisi tertentu.
Namun walker bukan otomatis pilihan terbaik untuk semua pasien setelah bed rest.
Walker Bukan Alat untuk Menarik Tubuh Saat Berdiri
Ini penting.
Pasien yang duduk di tepi bed terkadang langsung memegang walker kemudian menariknya untuk membantu berdiri.
Cara seperti ini dapat membuat walker bergeser atau menjadi tidak stabil.
Teknik berpindah dari duduk ke berdiri perlu disesuaikan dengan kemampuan pasien.
Jika pasien membutuhkan banyak bantuan ketika berdiri, mintalah fisioterapis atau tenaga kesehatan mengajarkan teknik transfer yang aman.
Walker Terlalu Tinggi atau Rendah Juga Tidak Nyaman
Ukuran walker perlu disesuaikan dengan pengguna.
Walker yang terlalu tinggi dapat membuat posisi tangan dan bahu kurang nyaman.
Sebaliknya, jika terlalu rendah, pasien dapat berjalan terlalu membungkuk.
Karena itu, sebelum digunakan, tinggi alat perlu disesuaikan berdasarkan petunjuk produk dan kebutuhan pengguna.
Jangan menggunakan walker milik orang lain tanpa mengecek pengaturannya terlebih dahulu.
Bagaimana dengan Tongkat Kruk?
🩼 Kruk sering dikaitkan dengan cedera kaki.
Memang, pada kondisi tertentu kruk dapat membantu pasien mengatur pembebanan pada salah satu kaki.
Misalnya dokter memberikan instruksi bahwa kaki tertentu belum boleh menerima beban penuh.
Namun kruk tidak otomatis lebih cocok hanya karena pasien masih lemah berjalan.
Penggunaan kruk membutuhkan:
- Kekuatan tangan dan tubuh bagian atas.
- Keseimbangan.
- Koordinasi.
- Teknik berjalan yang sesuai.
- Pengaturan tinggi alat yang benar.
Untuk pasien lansia yang sangat lemah atau keseimbangannya buruk, jenis alat bantu lain mungkin lebih sesuai.
Penilaiannya sebaiknya dilakukan berdasarkan kondisi pasien.
Jangan Menentukan Pembebanan Kaki Sendiri
Jika pasien menggunakan kruk setelah operasi atau cedera, keluarga mungkin mendengar istilah seperti:
non-weight bearing,
partial weight bearing, atau
weight bearing as tolerated.
Instruksi tersebut menentukan seberapa banyak beban yang boleh diberikan pada kaki.
Jangan mengubahnya sendiri hanya karena pasien mengatakan:
“Sekarang sudah nggak sakit kok.”
Rasa sakit yang berkurang tidak selalu berarti jaringan sudah pulih sepenuhnya.
Ikuti instruksi dokter atau fisioterapis mengenai pembebanan.
Kruk Jangan Ditumpukan Sepenuhnya pada Ketiak
Pada kruk ketiak, berat badan tidak seharusnya seluruhnya ditumpukan pada bagian ketiak.
Pengguna perlu menggunakan handgrip sesuai teknik yang benar.
Jika setelah menggunakan kruk pasien mengalami:
- Nyeri ketiak.
- Kebas.
- Kesemutan.
- Tangan cepat lelah.
- Postur terasa tidak nyaman.
periksa kembali tinggi kruk dan teknik penggunaannya.
Kalau Sudah Bisa Pakai Walker atau Kruk, Kursi Roda Tidak Diperlukan Lagi?
♿ Belum tentu.
Ini salah satu anggapan yang perlu diluruskan.
Pasien mungkin sudah mampu berjalan menggunakan walker sejauh:
5 meter → 10 meter → 20 meter.
Tetapi perjalanan ketika kontrol rumah sakit dapat jauh lebih panjang.
Bayangkan:
rumah → kendaraan → parkiran RS → pendaftaran → ruang dokter → laboratorium → farmasi → kembali ke kendaraan.
Pasien dapat kelelahan sebelum pemeriksaan selesai.
Dalam situasi seperti ini, kursi roda masih dapat membantu mobilitas jarak jauh meskipun pasien sudah mulai latihan berjalan.
Walker di Rumah, Kursi Roda Saat Kontrol? Bisa Saja
Pada kondisi tertentu, alat bantu tidak harus digunakan secara eksklusif.
Contohnya:
🏠 Di rumah
Pasien berlatih berjalan menggunakan walker sesuai program pemulihan.
🏥 Kontrol ke rumah sakit
Kursi roda digunakan karena jaraknya jauh dan pasien belum memiliki stamina yang cukup.
🚶 Jarak sangat pendek
Pasien melakukan aktivitas sesuai kemampuan dan instruksi tenaga kesehatan.
Jadi menggunakan kursi roda saat kontrol tidak otomatis berarti latihan berjalan gagal.
Kedua alat dapat memiliki fungsi yang berbeda.
Bagaimana Jika Pasien Menggunakan Kruk?
Konsepnya juga serupa.
Pasien mungkin mampu menggunakan kruk untuk berpindah di dalam rumah.
Namun ketika harus pergi jauh, kursi roda dapat dipertimbangkan untuk mengurangi kebutuhan berjalan terlalu jauh pada kondisi yang sesuai.
Terutama jika pasien masih memiliki pembatasan pembebanan kaki.
Jangan Takut Kursi Roda Membuat Pasien “Malas Jalan”
Ada keluarga yang berpikir:
“Jangan kasih kursi roda, nanti pasien jadi malas jalan.”
Padahal kursi roda adalah alat bantu mobilitas, bukan tanda pasien menyerah untuk berjalan.
Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kursi digunakan.
Jika pasien memang memiliki program latihan berjalan, latihan tetap dapat dilakukan sesuai arahan fisioterapis.
Kursi roda dapat digunakan untuk situasi ketika jarak atau aktivitas melebihi kemampuan pasien saat itu.
Kursi Roda Standard atau Traveling?
Jika kursi roda lebih sering digunakan di rumah, kursi standard dapat menjadi pilihan pada kondisi tertentu.
Jika sering dibawa menggunakan mobil untuk kontrol, keluarga dapat mempertimbangkan kursi roda traveling yang lebih ringkas pada banyak model.
🧳 Kursi traveling menarik karena portabilitasnya.
Namun jangan memilih hanya berdasarkan ukuran ketika dilipat.
Perhatikan juga:
- Ukuran dudukan.
- Kapasitas pengguna.
- Kenyamanan.
- Berat kursi.
- Kondisi pasien.
- Siapa yang akan mendorong.
Bagaimana Mengetahui Pasien Masih Membutuhkan Kursi Roda?
Perhatikan aktivitas nyata pasien.
Misalnya pasien sudah mampu berjalan ke toilet.
Pertanyaannya:
Apakah pasien juga mampu berjalan dari parkiran rumah sakit menuju ruang dokter?
Belum tentu.
Pertimbangkan kursi roda jika pasien:
- Cepat lelah.
- Belum aman berjalan jauh.
- Masih membutuhkan banyak bantuan.
- Memiliki pembatasan aktivitas.
- Berisiko kehilangan keseimbangan.
- Membutuhkan alat untuk perjalanan atau kontrol.
Kebutuhan dapat berubah seiring pemulihan.
Bagaimana Jika Pasien Takut Jatuh?
Setelah lama bed rest, sebagian pasien merasa takut ketika mulai berjalan lagi.
Ketakutan ini dapat membuat langkah menjadi sangat hati-hati.
Namun jangan langsung memaksa:
“Nggak usah takut, jalan saja.”
Cari tahu apakah pasien memang:
- Belum stabil.
- Merasa pusing.
- Mengalami nyeri.
- Kakinya lemah.
- Pernah jatuh sebelumnya.
Jika rasa takut menghambat mobilitas, fisioterapis dapat membantu melakukan penilaian dan latihan secara bertahap.
Jangan Gunakan Meja dan Kursi sebagai Alat Bantu Jalan
Pasien yang mulai berjalan sering menggunakan pola:
bed → meja → kursi → tembok → pintu.
Sekilas terlihat aman karena selalu ada pegangan.
Masalahnya, furnitur rumah tidak dirancang sebagai alat bantu mobilitas.
Kursi dapat bergeser.
Meja dapat berpindah.
Jika pasien membutuhkan pegangan sepanjang perjalanan, evaluasi apakah alat bantu yang sesuai diperlukan.
Siapkan Jalur Latihan di Rumah
Lingkungan rumah juga penting ketika pasien mulai kembali berjalan.
Perhatikan jalur:
bed → pintu kamar → ruang keluarga → toilet.
Singkirkan:
❌ Kabel.
❌ Karpet yang mudah bergeser.
❌ Mainan atau barang kecil.
❌ Meja kecil di jalur berjalan.
❌ Permukaan licin.
Buat jalur sederhana dan terang.
Bagaimana dengan Sandal?
Alas kaki juga perlu diperhatikan.
Sandal yang terlalu longgar atau licin dapat meningkatkan risiko tersandung.
Gunakan alas kaki yang sesuai dengan kondisi pasien dan rekomendasi tenaga kesehatan.
Untuk pasien dengan kondisi kaki tertentu, mungkin ada kebutuhan khusus.
Pasien Pusing Saat Pertama Berdiri?
Setelah lama berbaring, sebagian pasien dapat merasa pusing ketika berubah dari posisi tidur atau duduk menjadi berdiri.
Jika pasien mengeluh:
“Pusing.”
“Berkunang-kunang.”
“Seperti mau jatuh.”
jangan langsung meminta pasien berjalan.
Bantu pasien kembali ke posisi aman.
Jika keluhan baru muncul, sering berulang, atau cukup berat, konsultasikan kepada tenaga kesehatan.
Walker tidak menyelesaikan penyebab pusing.
Bagaimana Jika Satu Sisi Tubuh Lebih Lemah?
Jika pasien baru mengalami kelemahan satu sisi tubuh, terutama jika muncul tiba-tiba atau disertai gangguan bicara, perubahan wajah, kebingungan, atau gejala neurologis lainnya, segera cari pertolongan medis.
Jangan hanya memberikan walker dan mencoba melatih pasien berjalan.
Perubahan kemampuan berjalan yang mendadak dapat membutuhkan evaluasi segera.
Jangan Menambah Jarak Terlalu Cepat
Hari pertama pasien berhasil berjalan lima meter.
Keluarga mungkin berpikir:
“Besok coba 20 meter.”
Tidak selalu begitu.
Progres aktivitas perlu mengikuti kemampuan pasien dan program rehabilitasi.
Perhatikan:
- Kelelahan.
- Nyeri.
- Keseimbangan.
- Napas.
- Kemampuan mempertahankan postur.
- Kondisi setelah latihan.
Lebih jauh tidak otomatis berarti lebih baik.
Kapan Alat Bantu Mulai Bisa Dikurangi?
Tidak ada jadwal yang sama untuk semua pasien.
Jangan menggunakan aturan:
“Dua minggu walker, lalu harus tanpa alat.”
Tenaga kesehatan dapat mempertimbangkan:
- Kekuatan kaki.
- Keseimbangan.
- Pola berjalan.
- Daya tahan.
- Risiko jatuh.
- Penyebab pasien bed rest.
- Kondisi medis.
- Kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari.
Jadi alat dikurangi berdasarkan progres pasien, bukan sekadar kalender.
Jangan Terburu-buru Mengembalikan Kursi Roda
Jika menggunakan kursi roda sewa, keluarga mungkin melihat pasien sudah mulai berjalan dan langsung berpikir:
“Kembalikan saja kursinya.”
Sebelum itu, pertimbangkan:
Apakah minggu ini masih ada kontrol?
Apakah pasien sudah mampu berjalan jauh?
Apakah masih cepat lelah?
Apakah fisioterapis masih menyarankan alat bantu?
Jika kursi masih memiliki fungsi untuk aktivitas tertentu, mungkin belum saatnya dikembalikan.
Namun jika sudah tidak digunakan dan pasien memang sudah tidak membutuhkan, tidak ada alasan mempertahankan alat hanya karena masa sewanya belum lama.
Kalau Kebutuhan Hanya Sementara, Sewa Bisa Dipertimbangkan
Pada masa pemulihan, kebutuhan alat dapat berubah cukup cepat.
Contohnya:
Fase awal → kursi roda.
↓
Mulai berdiri → walker sesuai kebutuhan.
↓
Kondisi tertentu → kruk sesuai instruksi pembebanan.
↓
Kemampuan meningkat → alat bantu dikurangi.
Karena kebutuhan berubah, sewa dapat menjadi pilihan praktis untuk alat yang hanya digunakan sementara.
Namun tetap bandingkan biaya sewa dengan membeli, terutama untuk alat yang lebih kecil dan mungkin digunakan cukup lama.
Walker, Kruk, atau Kursi Roda: Mana yang Lebih Cocok?
Secara sederhana:
🚶 Walker
Dapat dipertimbangkan ketika pasien sudah mampu berdiri dan berjalan tetapi membutuhkan dukungan stabilitas tambahan.
🩼 Kruk
Dapat digunakan pada kondisi tertentu ketika pasien membutuhkan bantuan mobilitas atau pengaturan pembebanan pada kaki, sesuai instruksi tenaga kesehatan.
♿ Kursi Roda
Dapat membantu ketika pasien belum aman atau belum kuat berjalan jauh, meskipun sudah mulai latihan berjalan.
Tidak selalu harus memilih hanya satu.
Pada fase pemulihan tertentu, penggunaannya dapat saling melengkapi.
Jadi, Pasien Baru Mulai Jalan Setelah Bed Rest Harus Pakai Apa?
Jangan mulai dari alat.
Mulailah dari kemampuan pasien.
Perhatikan:
Bisa duduk sendiri?
↓
Bisa berdiri dengan stabil?
↓
Bisa melangkah?
↓
Berapa jauh mampu berjalan?
↓
Ada pembatasan beban pada kaki?
↓
Bagaimana keseimbangannya?
↓
Apa rekomendasi dokter atau fisioterapis?
Setelah itu barulah menentukan alat bantu.
Prinsipnya:
Walker, kruk, dan kursi roda bukan pesaing. Ketiganya memiliki fungsi berbeda dalam membantu mobilitas pasien.
Yang terbaik adalah alat yang sesuai dengan fase pemulihan pasien saat ini.
Butuh Walker, Kruk, atau Kursi Roda di Semarang?
Sahabat GS Alkes yang sedang mendampingi anggota keluarga belajar kembali berjalan setelah sakit, cedera, atau masa bed rest dapat menyesuaikan alat bantu dengan kebutuhan pasien.
GS Alkes menyediakan pilihan sesuai ketersediaan:
🚶 Walker
🩼 Tongkat kruk
♿ Kursi roda standard
🧳 Kursi roda traveling
♿ Kursi roda multifungsi
Untuk kebutuhan sementara selama masa pemulihan, pilihan sewa dapat dipertimbangkan pada produk yang tersedia untuk layanan penyewaan.
📍 Melayani Semarang & sekitarnya sesuai jangkauan pengantaran.
Sebelum memilih alat, sampaikan kebutuhan penggunaannya. Untuk pasien yang baru mengalami perubahan kemampuan berjalan, setelah operasi, setelah cedera, atau memiliki risiko jatuh, pemilihan alat sebaiknya mengikuti evaluasi tenaga kesehatan atau fisioterapis.
💙💚 GS Alkes — Sahabat Perawatan di Rumah.
Artikel ini merupakan informasi edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan, program rehabilitasi, atau rekomendasi dokter maupun fisioterapis. Jika kelemahan muncul mendadak, terutama pada satu sisi tubuh atau disertai gangguan bicara, perubahan kesadaran, nyeri dada, atau sesak berat, segera cari pertolongan medis.
Post a Comment